Ucapan Bela Sungkawa Hindu Bali
Doa Orang Meninggal Hindu atau ucapan bela sungkawa untuk agama Hindu di Bali secara khusus dan umumnya di Nusantara sangat bervariatif.
Beberapa tata cara mengungkapkan bela sungkawa menurut tradisi / adat Bali.
"Amor ing Acintya"
Artinya: Semoga atman menyatu dengan Tuhan (Brahman Yang Tak Terpikirkan).
"Dumogi Landuh Nyujur Sunia"
Artinya: Semoga atman lanus/lancar menempuh jalan ke Alam Siwa (Sunia Lhoka).
"Mogi Arok ring Sangkan Paran"
Maknanya: Semoga menyatu dengan Tuhan yang menjadi asal dan tujuan kehidupan.
"Dumugi kulawarga sane katilar kicen kaupasamaning kayun"
Maknanya: Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan hati.
"Dumugi polih genah anut ring karma wasana"
Sujatine: Semoga mendapatkan tempat sesuai dengan hasil perbuatan yang sudah dilakukan di dunia.
Catatan:
Arti "Semoga" dalam setiap pengertian doa atau mantra biasanya sangat relatif maknanya yang berarti disemogakan, semoga terjadi atau bahkan agar cepat terjadi. Baiknya di artikan atau diluruskan bermakna disegerakan, dilaksanakan, atau mungkin terjadilah segera.

Berikut ini merupakan proses kematian sadar menurut Lontar Bali:
Tahapan Kesadaran Setelah Nafas Berhenti dan Jalan Jiwa yang Mengenal Sunya,
Dalam pandangan Bali kuno, kematian bukan peristiwa tiba-tiba, melainkan proses kesadaran yang bertahap sebuah perjalanan yang sangat mirip dengan tidur terdalam yang telah kita pelajari.
Karena itu lontar berulang kali menegaskan:
Siapa yang memahami tidur sadar, tidak akan tersesat dalam kematian.
Lontar Tutur Kamoksan menyebut:
"Pati nenten pisan teka, nanging lumampah ring tatwa"
Kematian tidak datang sekaligus, tetapi berjalan melalui tahapan hakikat.
Menguraikan apa yang terjadi sejak nafas melemah hingga kesadaran berpindah, dan mengapa latihan tidur sadar menjadi bekal utama.
Saat Nafas Mulai Berubah - Lepasnya Bayu Kasar
Tahap pertama kematian dimulai bukan saat nafas berhenti, melainkan saat ritme nafas berubah.
Dalam lontar, nafas disebut bayu kasar-penopang tubuh fisik.
Tandanya:
nafas menjadi tidak teratur dada terasa ringan atau kosong perhatian mulai tertarik ke dalam.
Lontar Aji Pati Tattwa menulis:
"Yan bayu kasar lingsir, indriya miwah raga malingsir"
Saat nafas kasar melemah, indra dan tubuh mulai ditinggalkan.
Ini sangat mirip dengan fase awal deep sleep.
Orang yang terbiasa tidur sadar mengenali fase ini,
Orang yang tidak terbiasa sering panik.
Padamnya Indra - Dunia Luar Menghilang
Tahap kedua adalah penutupan indra.
suara tidak lagi jelas sentuhan tidak terasa cahaya meredup rasa waktu hilang
Lontar menyebut:
"Indriya sami mapaten, jagat tan kacingak"
Indra-indra mati, dunia tidak lagi terlihat.
Pada titik ini:
tubuh masih ada, nafas mungkin masih berjalan, tetapi kesadaran tidak lagi di dunia luar. Ini identik dengan tidur tanpa mimpi.
Padamnya Pikiran - Swapna Tidak Lagi Ada
Tahap ketiga adalah lenyapnya pikiran dan mimpi.
Jika semasa hidup:
Pikiran penuh keterikatan emosi belum bersih, karma masih kuat, maka kesadaran bisa terlempar ke mimpi karmis, kebingungan, atau alam antara.
Namun bila seseorang telah mengenal swapna nirodha:
Mimpi berhenti, pikiran padam, tidak ada cerita
Lontar menegaskan:
"Yan tan hana swapna, tan kasasar atma"
"Yan tan hana swapna, tan kasasar atma"
Jika tidak ada mimpi, jiwa tidak tersesat.
Munculnya Sunya Terang-Cahaya Tanpa Bentuk
Setelah pikiran padam, sunya muncul. Bukan gelap menakutkan, melainkan hening yang terang tanpa cahaya.
Lontar Jñāna Siddhanta menggambarkan:
"Sunya tan peteng, tan padhang, nanging eling"
Sunya bukan gelap, bukan terang, tetapi sadar.
Inilah tahap yang paling menentukan.
Yang terbiasa takut → ingin kembali ke bentuk Yang terbiasa sadar → berdiam sebagai saksi.
Jñāna Nidra adalah latihan langsung untuk tahap ini.
Dua Jalan Jiwa Setelah Sunya
Lontar menyebut ada dua kemungkinan arah:
Jiwa yang melekat, mencari bentuk, tertarik oleh ingatan
ditarik oleh karma wasana masuk kembali ke lingkar samsara
Disebut:
"Atma kaseret ring wisesa karma"
2 Jiwa yang mengenal sunya, tidak mencari apa pun tidak takut hening
tidak melekat pada bentuk, melebur ke asal kesadaran
Disebut:
"Atma mulih ring kawitan"
Jiwa kembali ke asalnya.
Mengapa Latihan Tidur Sadar Sangat Penting
Karena semua tahap kematian itu dilalui setiap malam:
Tidur Kematian, Nafas melambat, Nafas melemah, Pikiran lenyap, Indra padam Indra mati, Pikiran hening, Sunya hadir Sunya terbuka.
Perbedaannya hanya satu:
apakah kita sadar atau tidak?
Lontar menegaskan dengan sangat lugas:
"Sang wruh ring turu, wruh ring pati"
Yang mengenal tidur, mengenal kematian.
Mati dengan Tenang Karena Pernah Berlatih
Kematian tidak menakutkan.
Yang menakutkan adalah tidak mengenal apa yang akan dilalui.
Tidur sadar, Jñāna Nidra, dan swapna nirodha
bukan latihan mistik eksklusif, melainkan pendidikan kesadaran paling alami.
Karena setiap manusia tidur. Namun hanya sedikit yang hadir sepenuhnya saat tidur.
Dan merekalah yang kelak, pergi dengan tenang.

Belum ada Komentar untuk "Ucapan Bela Sungkawa Hindu Bali"
Posting Komentar