Pelinggih Anglurah/Penglurah
Dalam sanggah / merajan alit, selain kemulan dan taksu, semeton bali diwajibkan membangung panglurah agung. dimana palingih ini berupa bangunan bebaturan seperti tugu dengan batu paras, batu cadas atau batu bata dengan rong satu bertempat di sebelah kiri sanggah kemulan.
Bhatara Ngelurah atau sering disebut Pengelurah. Penglurah asal katanya "Lurah" yang artinya pembantu (pepatih), mendapat awalan pe dan sisipan ng, menjadi kata kerja, jadi pengelurah artinya bertugas menjadi pembantunya para dewa atau dewata (menjadi patihnya) pada setiap pura atau pamerajan.
Bangunan ini merupakan palinggih Bhatara Kala, putra Bhatara Siwa dengan bhiseka Ratu Ngurah yang bertugas sebagai pecalang atau penjaga sanggah pamerajan (Winanti, 2009:42). Dalam Penghayatan agama Immanent ( sekala ) Tugu Panglurah adalah palinggih ( Sthana ) para Lurah, iringan pengawal para Dewa Istadewata Hyang Widhi. Fungsinya adalah sebagai Pengawal Pribadi dari Ista Dewata Hyang Widhi.
Selain itu makna pelinggih Panglurah ini adalah untuk menstanakan Sang Catur Sanak yang telah suci. Sang Hyang Atma yang telah suci berstana di palinggih pretisentana atau keturunannya yang masih hidup (Wianti, 2009:32).
Palinggih Pangrurah ini merupakan manifesatsi dari Sang Hyang Widhi dengan Swabhawa “Bhuta Dewa” yang maksudnya setengah Dewa setengah Bhuta. Beliau memiliki fungsi sebagai penjaga para dewa, disamping itu sebagai juru bicara antara dewa, Dewata dengan manusia dengan umatnya. Dengan kata lain Beliau sebagai penyampai dari sembah bhaktinya umat, dan penyampai anugrah dari para dewa. (Sudarsana, 1998:70).
Lontar Siwagama:
" ...bhagawan Manohari, Sivapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadharmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang saduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Mwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggarpratiwi wangunen ika, mwang kamuln panunggalanya sowang..."
artinya :
" Bhagawan Manohari pengikut Siwa, beliau disuruh oleh Sri Gondarapati, untuk membangun sad kahyangan kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban orang semua. Lain kewajiban sekelompok orang untuk empat puluh keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian itu yakni duapuluh keluarga, harus membangun ibu, dan Kamulan satu-satunya tempat pemujaan yang harus dibangun pada masing-masing pekarangan....".
Kamulan dimaksudkan untuk selalu ingat kepada sumber atau asal manusia. Manusia dalam bahasa Sanskrit berasal dari kata ' jatma' yaitu ' ja + atma '. Ja berarti lahir, sedangkan atma artinya roh. Jatma atau manusia adalah roh yang lahir. Maka dapat disimpulkan bahwa manusia hidup karena adanya roh yang lahir. Jadi yang menjadi sumber asal manusia adalah roh itu sendiri.

Lontar Usana Dewa:
"Ring kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring kaulan tengen bapa ngarang sang Paratma, ring kamulan kiwa ibu ngaran sang Siwatma, ring kaulan tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa, meraga Sang Hyang Tuduh..."
artinya:
"Pada sanggah kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada kamulan kiri ibu, disebut Sivatma. Pada kamulan ruang tengah diri-Nya, itu Brahma, menjadi purusa pradana berwujud Sang Hyang Tuduh ( Tuhan Yang Menakdirkan )...".
Lontar Gong Wesi:
"...ngaran ira Sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, Sang Paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, Sang Sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dad meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal, nunggalang raga...."
artinya:
"... nama beliau Sang Atma, pada ruang kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma, pada ruang kamulan kiri ibumu, yaitu Sang Sivatma, pada ruang kamulan tengah adalah menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal, menyatukan wujud....".
Lontar Purwa Bumi Kamulan:
"...Riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring Sanggah Kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni..".
artinya:
" Setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau bekas roh itu laki naikkan pada ruang kanan, kalau roh tiu bekas perempuan dinaikkan disebelah kiri, disana menyatu dengan leluhurnya terdahulu".
Dalam Siwa Tatwa, sanggah kamulan dapat diwujudkan sebagai perwujudan Tri Murti, yaitu Brahma sebagai atma ( ANG ), wisnu sebagai antaratma ( UNG ) dan iswara sebagai Paramatma ( MANG ). Ketiganya adalah roh alam semesta sebagai perwujudan dari Hyang Widhi. Perwujudan itu dari aspek horisontal, sedangkan dari sudut pandang vertikal Hyang Widhi diwujudkan dalam Tri Purusa yaitu Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa.
Kesimpulan
Dari uraian lontar-lontar itu dapat diambil kesimpulan utama adalah, fungsi sanggah kemulan adalah untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai asal muasal manusia dan sebagai tempat pemujaan roh leluhur agar mencapai penyatuan dengan sumbernya yaitu Hyang Widhi ( moksa ).

Belum ada Komentar untuk "Pelinggih Anglurah/Penglurah"
Posting Komentar